Pesta Tabuik Pariaman

Pesta Tabuik Pariaman


Sore menjelang di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Pantai Gondoriah merupakan tempat yang popular di kota tersebut.  Pantai Gondoriah akan dipenuhi  oleh ratusan ribu manusia. Dua buah benda yang diarak menjadi pusat perhatian; Tabuik!

Masyarakat Minangkabau mengenal Tabuik sebagai pesta rakyat yang tiap tahun digelar di Kota Pariaman. Akan tetapi, Tabuik kali ini tidak lagi sebuah kotak peti kayu yang dilapisi oleh emas. Namun yang diarak oleh warga Pariaman adalah sebuah replica menara tingi yang terbuat dari bamboo, kayu, rotan, dan berbagai macam hiasan. Puncak menara adalah sebuah hiasan yang berbentuk payung besar, dan bukan hanya di puncak, dibeberapa sisi menara hiasan berbentuk payung-payung kecil juga terpasang berjuntai.

Tidak seperti menara lazimnya, bagian sisi-sisi bawah Tabuik terkembang dua buah sayap. Diantara sisi-sisi sayap itu, terpasang pula ornament ekor dan sebuah kepala manusia; sepertinya wajah wanita lengkap dengan kerudung. Bambu-bambu besar menjadi pondasi sekaligus tempat pegangan untuk mengusung Tabuik yang terlihat kokoh dan sangat berat ini. Butuh banyak pria untuk mengangkatnya dan butuh banyak kucuran keringat untuk mengoyaknya.

Selain sebuah prosesi ritual, saat ini Tabuik juga adalah sebuah pesta rakyat di Kota Pariaman. Oleh sebab itu, prosesi ini melibatkan semua lapisan masyarakat Pariaman. Terlihat dari dua Tabuik yang diusung itu; Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kelompok Tabuik Pasa terdiri dari gabungan 12 desa yang ada di kota tersebut, sementara kelompok Tabuik Subarang terdari dari gabungan 14 desa lainnya.

Masyarakat berkelompok dan saling bahu-membahu untuk membuat Tabuik dan mengaraknya. Menurut beberapa sumber, Tabuik masuk ke Pariaman sekitar tahun 1831 M, dibawa oleh Pasukan Tamil Muslim Syi'ah dari India. Prosesi adalah bentuk kegiatan mengenang kejadian di hari Asyura atau 10 Muharam; khususnya mengenang cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, yang tewas di Padang Karbala. Awalnya kegiatan semacam ini adalah ritual yang dilakukan oleh kelompok muslim Syi'ah; pengikut setia Ali bin Abu Talib (ayah Husein). Meskipun kelompok Syi'ah tidak berkembang di Minangkabau, khususnya Pariaman, tapi tradisi Tabuik ini tetap bertahan hingga sekarang. Walau ada sebagian orang beranggapan bahwa ruh awal dari lahirnya ritual tersebut telah hilang sebagian.

Sumber lain mengatakan bahwa Tabuik adalah kebudayaan yang berkembang dari kebuyaan propinsi tetangga Sumatera Barat, Bengkulu. Di daerah ini juga ada tradisi yang serupa dengan Tabuik Pariaman; dikenal dengan sebutan Tabot. Tidak banyak perbedaan antara Tabuik dengan Tabot membuat kemungkinan ini ada. Apalagi diperkirakan usia prosesi Tabot Bengkulu lebih tua dari pada Tabuik Pariaman; sekitar tahun 1685 M.

Tapi sampai sekarang belum ada sebuah penelitian yang resmi terhadap kebudayaan ini. Sehingga sejarah tentang Tabuik masih sekadar asumsi; belum ke tingkat ilmiah. Bukan hanya di Bengkulu, prosesi Tabuik juga amat mirip dengan sebuah ritual 10 Muharam yang dilakukan oleh masyarakat di negara Iran; negara muslim Syi'ah. Seperti halnya ritual Tabuik sebagai pagelaran rekontruksi ulang kejadian pembantaian Imam Husein dan pasukannya di Padang Karbala, maka di Iran ada pagelaran serupa yang diberi nama Ta'ziyeh.

Posting Komentar

 
Supported By : My Free Template | Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Zulfa Inanda Gusti - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger